Aku Mulai Jenuh

Siang itu, setelah kumatikan telepon genggam miliku dengan penuh amarah dan kesal terhadapmu yang mungkin merasakan hal yang sama seperti yang kurasakan saat itu. Aku mulai merasa kejenuhan yang sangat hebat bergelut di dalam pikiranku hanya karena masalah - masalah kecil yang selalu terulang beberapa kali. Ini hanya masalah kecil jadi gak perlulah kamu ributin, besar - besarin seperti ini, gerutuku dalam hati beberapa kali.

Aku mulai menyadari perbedaan ini, antara aku dan kamu. Sifat dan prinsip kita benar - benar bertolak belakang. Kau yang selalu mengaharapkan aku untuk menjadi orang pertama yang menanyakan kabarmu, berharap agar tak pernah terlambat membalas pesan - pesan singkat yang kau kirimkan entah setiap berapa menit sekali. Berharap bahwa di setiap hari - harimu aku akan selalu ada, dan berharap agar aku dapat mengikuti segala aktivitas yang kau lakukan. Kenyataanya adalah kita berbeda.

Tidak sepertimu, aku jauh tidak tergantung akan kehadiran dirimu dalam hidupku. Bukan karena alasan mencintai atau tidak mencintai. Aku hanya ingin tetap ada batasan untuk saling memahami dan menghargai antara diri masing - masing. Bukan karena aku adalah kekasihmu lantas aku tak melanjutkan hidupku, meninggalkan tugas - tugasku, dan pekerjaanku hanya untuk bercengkrama dengan pesan - pesan singkat darimu. Bukankah terkadang kita perlu meluangkan waktu untuk memanjakan diri sendiri ? untuk sekedar bercanda dengan teman - teman kita, untuk sekedar bersenang - senang dengan hobby kita sendiri walau hanya sekejap. Egois bukan?

Well, aku memang egois sayang, maaf...
Kuakui aku juga memiliki hasrat yang sama persis seperti yang kau miliki, berdiri disampingmu ketika kau sedang berdoa. Sama. aku juga mengidamkan ada seseorang yang berdiri tepat didepanku menggunakan peci, sarung dan sajadah. Sedangkan aku, aku akan menggunakan dua helai kain yang akan menutupi seluruh bagian tubuhku kecuali wajah dan telapak tanganku. Membaca beberapa ayat - ayat suci kami, dan memanjatkan doa menganai harapan - harapan bahkan curhat menganai maslah kami.

Kau harus tau, aku bahkan tidak pernah terfikirkan untuk merubah tata caraku berdoa kepada Tuhanku. Ya, aku memang egois. tapi ini prisipku. Maafkan aku. . .. .. ...





Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Monggo Komengnya buuu